Saturday, 21 July 2012

Hadiah

1 ~ Kau Yang kuRindui ... Selamat Hari Jadi

Aduuh, jantung mana yang tidak berdag-dig-dug dan bergelandangan jadinya apabila membaca kata-kata romantis begitu! Kata-kata itu bersama jambangan-jambangan mawar dan bentuk-bentuk hati bertaburan di atas kertas pembalut menjadikan bungkusan yang serba peach ronanya sangat bernilai.Tiba-tiba hari pun menjadi-jadi selamatnya walaupun hari itu bukan hari jadi ... dan o-la-la, ada orang yang sudi merindui saya? Auww, chori chori chupke chupke? Nah, siapa gerangan empunya diri yang menjadikan dunia saya sedikit terbalik sejurus sebelum maghrib semalam?

Maka bungkusan pun dibuka ... uiih, ada nota kecil? Errr, nota cintakah? ~ Bersama surat ini ada dua tudong untuk hadiah beri resipi Laksa Serawak. Ada dua tudong. Satu untok Rampai, satu lagi untok kawan Rampai yang beri resipi itu. Selamat terima. Sekian sahaja. Wassalam. Daripada Mak Esah.

Ooooooh, Mak Esah rupa-rupanya! Ceritanya begini - pada penghujung Mei yang lalu Mak Esah jiran selang sepuluh rumah dari rumah saya telah menelefon untuk mendapatkan resipi laksa Sarawak untuk cucunya yang sedang mengidam. Saya minta tangguh 2 hari untuk mendapatkan resipi itu dari seorang kawan. Alamak, tak sangka pula dalam masa 2 hari itu Mak Esah kerap menelefon tak kira siang malam untuk bertanyakan sama ada resipi itu sudah ada di tangan saya. Adeiii, pening juga dibuatnya namun saya perlu bersabar melayan kerenah Mak Esah yang berusia 78 tahun itu. Setelah memberi resipi itu kepadanya, Mak Esah menghulurkan sekeping sampul hijau kepada saya. "Untuk bayaran resipi," katanya. Saya menolak pemberian itu. 

Kedua-dua tudung itu cantik. Saya suka. Satu berwarna merah hati dan satu lagi kuning langsat. Alhamdulillah.


2 ~ Lir Ilir

Lir Ilir juga satu kejutan yang saya terima awal minggu ini. Hadiah yang sangat cantik lagi berharga dari Bro Keng. Senikatanya punya makna yang sangat dalam dan sarat dengan tamsil untuk direnung, diselami, dan difikir kemudian bertindak sewajarnya. Kepada saya, irama lagunya mencengkam jiwa dan luah liriknya menebak rasa. Ia mampu membawa diri pulang kepada Khaliq. Alhamdulillah.

*Lirik lagu ini pada entri di bawah.


3 ~ Ramadhan

Alhamdulillah. Ramadhan hadiahNya setiap tahun dianugerahkan kepada sekalian umat Nabi Muhammad, Salallohu'alaihiwassalam. Melimpah ruah kemewahan yang diberiNya pada bulan ini. Bersyukurlah kita akan hadiah ini dengan melunaskan amal ibadah dan amal kebajikan sebaik mungkin. Usah persiakan setiap detik yang ada selagi punya ruang dan daya upaya. Jangan tinggalkan ibadah yang wajib; perbanyakkan ibadah sunat.

Selamat berpuasa dan selamat berbuka :)


Salam.
1 Ramadhan 1434H

Lir Ilir

Lir Ilir  -  sebuah lagu daerah Jawa Tengah dan merupakan sebuah karya dari Sunan Kalijaga. Lagu ini mempunyai makna yang sangat dalam.



Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir Tak ijo royo-royo
Tak sengguh panganten anyar
Tak sengguh panganten anyar

Bocah angon – bocah angon
Panekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono
Kanggo sebo mongko sore
Kanggo sebo mongko sore

Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak o, surak hiyo


Bait di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya. Anak gembala, panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya]. Panjatlah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut "bocah angon‟.

Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan.



Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore

(Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore.)

"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan "sowan" atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.



Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane

(Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.)

_______________________________________________________________________________________________


Lir-ilir, lir-ilir = tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa? Ruh? kesadaran? Pikiran? Terserah, yang penting ada sesuatu yang kita hidupkan.

tandure wus sumilirtanaman-tanaman sudah mulai bersemi.
Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.



Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar  =  demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.
Hijau adalah simbol warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja2 jawa yang baru masuk Islam. 

Cah angon… cah angon… penekna blimbing kuwi  = anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu.
"Cah angon" maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu "menggembalakan" makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu, kenapa "Blimbing" ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa "Penekno" ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodotira = walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian.
Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara / saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotira… dodotira… kumitir bedah ing pinggir = pakaian-pakaian yang koyak disihkan.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah "sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa". Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek. 

Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore = jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.
Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut „paseban‟ yaitu tempat menghadap raja.Di sini Sunan memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane = selagi sedang terang rembulannya, selagi sedang banyak waktu luang.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita. Selagi masih banyak waktu, selagi masih banyak kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu dan bertaubatlah.

Yo surako surak hiyo = mari bersorak-sorak ayo…
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.


Terima kasih:
http://www.youtube.com/watch?v=1zsNkQpk0uw&feature=related
http://vempuzka.wordpress.com/2010/04/09/lir-ilir/ 

Thursday, 24 May 2012

Rejab, Syaaban, Ramadhan


Rejab bulan menabur benih
Syaaban bulan menyiram tanaman
Ramadhan bulan menuai

Rejab menyucikan badan
Syaaban menyucikan hati
Ramadhan menyucikan roh

Rejab bulan maghrifah
Syaaban bulan syafaat
Ramadhan bulan kebajikan

Rejab bulan taubat
Syaaban bulan muhibbah
Ramadhan bulan pahala

Rejab diganda 70 pahala
Syaaban diganda 700 pahala
Ramadhan diganda 1000 pahala


~ Terima kasih Miyah atas peringatan ini.

3 Rejab 1433H


Salam.

Thursday, 17 May 2012

"Apecer?"


Apecer? Perkataan ini dipelajari melalui sebuah program lawak di tivi. Sinonimnya tiada dalam kamus. Bertanya kepada mereka yang ahli bahasa pun mereka tidak tahu maknanya. Cari punya cari dan tanya punya tanya, akhirnya ketahuan juga maksudnya. Rupa-rupanya perkataan itu adalah kependekan dari kata-kata 'apa cerita'.

Adecer! (oops, ini ciptaan sendiri :D). Awal bulan ini ada sms di telefon yang sangat mengejutkan ...

+6016xxxxxxx. Sdra/i  BUNGA RAMPAI BINTI ABDULLAH.
SLAMAT HARI LAHIR. HAPPY
B'DAY. drp YB Dato' Sri xx
xxxxxxxxxxxxxxx.
Coordinator (parti) xxxxxxxx
Tel: xxxxxxxxxx

Wah, tekejut I tau!
VIP you know... wish I Happy Birthday!
Tak pernah pernah pun sebelum ini.

Apecer? 


Salam.

Tuesday, 8 May 2012

Melepaskan siang bagai melepaskan burung-burung merpati


Di dalam kamar yang kecil ini, di sebelah kiri jendela yang berlangsirkan kain kapas yang sudah pudar warna mawar merahnya, ada nyanyian yang menemani sunyi malam -  ada Kokoro No Tomo, ada Terukir Di Bintang, ada Goodbye Girl, ada Menjaring Matahari, ada Kingston Town – dan sunyi malam pun tersenyum menyambut alunan nyanyian itu di luar jendela yang terkuak luas. Sengaja dikuakkan luas luas, biar sepoi angin datang bersiar-siar di halaman hati. Siapa tahu ada saat-saatnya angin dan malam bisa berakad untuk membisikkan bening ilham  ke sanubari.

Menulis blog bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan akhir akhir ini. Begitu juga payahnya membaca berpuluh blog jiran di sekeliling. Aduhai! Waktu beredar, kewajipan bertambah, masa pun menjadi singkat, dunia semakin sempit, dan barangkali juga kemboja sedang menunggu di perkuburan.

Nah … kaaan! Angin malam melarik ilham dan pengembara malam mulai mendandan bicara.

angin malam
selimutkan dia
dengan rinduku

mercup embun subuh
titiplah cintanya
simpan di hatiku

Aah, rasa rindu ini memukau segenap getar nadi dan degup jantung! Terhenti seketika darah yang mengalir. Betapa pendam rindu cukup meresahkan.   

Entah siapa siapalah dia itu sebenarnya. Siapa siapa pun dia itu, ternyata bisikan angin malam kadang merempuh diri, menghumban jiwa manusia ke lembah gersang, mencipta khayal nan lompang, dan melupakan manusia akan alam qiamusyahadahnya.


Malam sudah larut kini. Jendela separuh terbuka. Dingin angin menggebu rindu di kalbu. Angin malamkah lagi yang menggoda dan memperdaya hati? Atau angin  itukah juga yang menggiat rasa agar si pengembara malam menabur tasbih untuk melerai rindu sebelum embun bersimpuh di permukaan bumi?

selamat malam, malam
dengan namaMu-lah Ya Raab
aku bernafas dan lelap

pada bangun nanti
kupuji namaMu
kerana membangkitkan aku
dari lena yang sementara ...

“Ketentuan Allah bukan dalam perkiraan manusia. Yang sihat tak semesti lambat kematiannya; dan yang uzur tak pasti hampir dengan maut.” ~ Ku Keng.

... kepadaMu jualah Ya Raab sekalian manusia akan kembali.
.
.
Melepaskan siang bagai melepaskan burung-burung merpati dari sangkar sempitnya kemudian terbang bebaslah mereka berkawan-kawan ke ruang yang sangat luas yang sentiasa memujuk rasa untuk melunaskan kemahuan hati. Namun yang bernama manusia tetap punya sempadan kehidupan dan lingkaran kebebasan yang sangat goyang.


Salam.

Monday, 12 March 2012

Mengingati Rini

Sunyi malam ini membangkitkan ingatan kepada Rini, budak perempuan penjual kuih di rumah pangsa Permai di pinggir kota. Dua minggu sudah dia tidak ke kelas. Minggu lepas juga tidak ke kelas. Pagi semalam dia ada di kelas tetapi datangnya lewat setengah jam. Di dalam kelas Rini asyik menguap. Kadang-kadang dia menguap besar-besar tanpa menutup mulutnya lalu menampakkan sebatang gigi atasnya yang rongak berwarna coklat, dan nafas yang menderu keluar dari mulutnya membawa bau yang sangat hamis. Bau itu membuatkan murid-murid lain menjauhkan diri darinya. Letih dan mengantuk sangat agaknya dia sehinggakan apa yang ditanya dijawab dengan pandangan lesu lagi kosong, sekosong halaman bukunya yang tidak bertulis apa-apa pun.

Rini membantu ibunya, bukan sahaja menjual kuih malah membuat kuih. Setiap hari selepas solat Subuh Rini berada di dapur untuk melenyek pisang kemudian membuat adunan untuk cucur kodok yang bakal digoreng oleh ibunya yang bangun lebih awal untuk menggoreng  keledek dan membuat sandwich.

Misi menjual kuih bermula pada jam 6.30 pagi di tingkat tiga. "Kuih! Kuih!" Teriak Rini di sepanjang koridor di tingkat tiga itu. Kemudian dia beraleh ke tingkat empat, lima, enam, dan ada kalanya hingga ke tingkat sepuluh. Habis atau tidak kuih jualannya, tepat jam 7.00 pagi Rini bergegas balik ke rumah. Rini hanya ada 20 minit untuk bersiap dan bersarapan sebelum dihantar ke sekolah bersama adiknya yang berumur 8 tahun dengan membonceng motorsikal ibunya.

Masa untuk menjaja kuih dipanjangkan pada hari Ahad yang kadang-kadang melewati jam 9.00 pagi iaitu waktu yang sama bermulanya kelas bimbingan. Ibu Rini sedar akan hal ini dan berjanji tidak akan membebani Rini pada tahun hadapan iaitu tahun Rini menduduki pepriksaan UPSR. Apakan daya kata ibu Rini, seorang ibu tunggal, tahun ini dia memerlukan wang sampingan untuk melunaskan hutang-hutang ayah Rini yang kini tinggal di pusat serenti.


Salam.

Tuesday, 6 March 2012

Nilai sehelai busana

Untuk membeli sehelai blaus pun bukan main payah lagi. Bukannya tidak ada. Ada berlambak sebenarnya. Berpuluh fesyen dan berpuluh jenama pula tu! Malangnya tidak ada sehelai pun yang berkenan di hati kerana ada sahaja sesuatu tentang blaus itu yang kurang enak pada pandangan mata. Ada yang labuhnya dah molek benar tetapi lengannya hanya sampai ke siku. Ada yang segalanya okey tetapi potongannya pula macam sarung nangka. Lagi aneh, kebanyakan busana trend terkini kainnya nipis yang sesuai juga dijadikan tirai atau kelambu.

Pusing punya pusing mencari blaus, akhirnya aiskrim McD juga yang lumayan dilayan. Sejuknya melegakan ruang fikir dan enaknya mengundang ingatan kepada kata-kata berikut:

"Man in the early times was almost naked, and as his intellect evolved he started wearing clothes. What I am today and what I'm wearing represents the highest level of thought and civilisation that man has achieved, and not regressive. It's the removal of clothes again that is regressive back to ancient times."

Demikian jawapan Tawakul Karman, salah seorang pemenang Hadiah Nobel Keamanan 2011, apabila beliau ditanya mengenai hijab yang dipakainya oleh para wartawan yang berpendapat pakaiannya itu tidak setaraf dengan tahap intelek dan pendidikannya.


OneU,
4/3/2012

Salam.

Saturday, 25 February 2012

Rambu-rambu

Lucu sekali apabila maksud sepatah perkataan sangat jauh tersimpang dari apa yang kita fikirkan. Misalnya perkataan "rambu-rambu" yang sangat menarik perhatian saya di sepanjang perjalanan Medan - Danau Toba - Medan. Apa yang terbayang di kepala saya ialah sehelai baju atau tirai yang berambu dan rambu-rambu itu berfungsi untuk mencantikkan lagi gaya baju dan tirai tersebut.

Lain pula di utara Sumatera. Di sana sini di bahu-bahu jalan terpacak papan tanda yang bertulis: "patuhi rambu-rambu jalan raya." Aiseymen ... jalan raya berambu dan perlu dipatuhi rambu-rambu itu? Pelik aah, tak ada pun rambu-rambu di sisi jalan! :P  Rupa-rupanya "rambu-rambu" itu bermaksud "undang-undang atau peraturan." Jadi, maksud papan tanda tersebut ialah: "patuhi undang-undang jalan raya."

Tentunya di Malaysia ini sampai bila-bila pun tidak akan ada papan tanda seperti itu di tepi jalan raya. Namun sampai bila-bila pun pasti ada kumpulan remaja dan belia yang kerjanya merambu tak kira siang atau malam. Merambu sampai lupa kepada waktu yang beredar.

Salam.

Tuesday, 21 February 2012

Refleksologi di Berastagi

Untuk persediaan shopping di Medan ... err, aktiviti yang kurang diminati sebenarnya lagi pun kedua-dua kaki sudah capek! Namun kerana mahu melihat sendiri keunikan barangan tempatan serta acara tawar-menawar antara para pembeli dengan peniaga, maka saya berfikir harus juga bersedia untuk itu. Maka sesudah makan malam saya ke kamar refleksologi untuk memulihkan kecergasan kaki.

Ternyata Rama, Ju, dan Ail  masih lagi gagah perkasa dan tidak tunduk kepada bab urut-mengurut ini. Mereka kata mahu menghirup damai angin malam sambil melihat  kembar Sibayak dan Sinabung mengeluarkan asapnya. Kedua-dua gunung berapi ini masih aktif dan merupakan tarikan utama pelancong datang ke Berastagi. Satu lagi sebab mengapa Rama, Ju, dan Ail menolak pelawaan saya ialah  mereka sudah mulai jatuh cinta dengan angin malam dan tidak mahu melepaskan malam terakhir mereka tanpa berangan-angan di anjung tempat penginapan sebelum bertemu kota Medan yang bingit dan panas! Saya membiarkan mereka bercanda dengan alam.

Di kamar refleksologi, seorang kakak yang agak gempal badannya yang sedang duduk santai di sebuah kerusi empok nmenguntumkan senyuman sebaik melihat saya memasuki kamar tersebut. Tanpa ditanya Cik Kak yang juga orang Malaysia memberitahu bahawa tukang urut di situ adalah lelaki. Saya terkejut kerana seawalnya saya sudahpun membuat janjitemu untuk mendapatkan khidmat tukang urut perempuan dan sesi urut kaki akan berlangsung di dalam tempat yang bertutup sepenuhnya dengan tirai.  Memang benarlah kata-kata Cik Kak itu setelah saya bertanyakan penyelia salon tersebut. Sudah tentu saya kecewa.

"Alaa, jangan risau ... dia urut pakai sarung tangan."

Berdetik-detik terlebih degupan jantung saya mendengar jawapannya! Dia tidakk risau tapi saya risau yang teramatnya. Saya membatalkan sesi itu.

Peristiwa itu mengingatkan saya kepada satu peristiwa di sebuah hospital di tanah air yang berlaku beberapa bulan lepas. Tukang urutnya terdiri dari lelaki dan perempuan dan semuanya tukang urut buta dari sebuah persatuan di ibu kota. Saya meminta khidmat tukang urut perempuan dan  memohon untuk diurut di suatu sudut yang disiapkan dengan penghadang  kayu sebagai pelindung dari pandangan orang ramai yang lalu-lalang di situ. Bagaimanapun permintaan saya ditolak dengan alasan tempat itu sudah ditempah oleh orang lain.

"Alaa, jangan risau ... kami ni buta ... tak nampak pun betis akak!"

~ Demikian dalam kehidupan ini kita banyak mengambil ringan tentang perkara yang kita rasakan remeh lalu kita tidak ambil peduli akan aspek ibadahnya sedangkan hal itu secara halusnya dapat memberi kesan negatif kepada akidah kita. Wallahu'alam.


Berastagi, Danau Toba.
26/1/2012

Salam.

Friday, 17 February 2012

Horas!

Dari jauh perempuan itu sudah tersenyum. Dia masih tersenyum setiba saya di muka kedainya. Susuk tubuhnya kelihatan muda namun senyumannya walau manis, telah menimbulkan berpuluh garis halus di wajahnya yang dihiasi jeragat hitam pada kedua-dua belah pipi, hidung dan dahinya. Rambutnya disikat rapi namun kelihatan perang dan kasar. Pada hemat saya, penampilan fizikalnya yang sedemikian rupa adalah hasil dari kehidupan yang sukar serta serba kekurangan  yang pantas mematangkan seraut wajah muda.

"Horas!" Ucap saya kepadanya sambil melepaskan sebuah senyuman yang saya harap dapat menghangatkan hatinya pada pagi yang dingin ketika itu. "Horas!" Balasnya dengan senyuman yang lebih lebar yang membanyakkan lagi garis-garis halus di wajahnya. Horas adalah ucapan lazim bagi kaum Batak di Pulau Samosir yang bermaksud 'selamat'  atau boleh juga bermaksud 'salam kenal.'

Singgah di kedainya bukanlah untuk membeli tetapi sekadar mencuci mata dan berhenti rehat seketika setelah penat berjalan dek meninjau-ninjau persekitaran Kampung Ambriata di Pulau Samosir. Pulau Samosir adalah pulau volkanik yang terletak di tengah-tengah Danau Toba dan lebih besar keluasannya berbanding Singapura. Dia menghulur sebotol air mineral kepada saya namun saya menolak kerana saya sendiri memiliki sebotol air mineral di dalam beg galas. "Hadiah untuk kamu." Aduuuh, adakah ini satu pancing supaya terbuka hati saya untuk membeli di kedainya? Akhirnya saya menerima hadiahnya itu setelah dia berkata "Ikhlas!" sebanyak tiga kali.

Kami berbual dari hal-hal barang-barang jualannya yang terdiri dari kemeja-T, seluar bermuda, kaftan dan blaus wanita - - hinggalah kepada falsafah Batak yang dipegang teguh dan hingga sekarang menjadi asas kehidupan sosial dan bermasyarakat dalam kalangan orang Batak Samosir yang kebanyakannya beragama Kristian. Falsafah itu adalah:

1) hormat kepada pihak keluarga ibu dan isteri.
2) ramah pada keluarga saudara perempuan.
3) bersatupadu dalam hubungan semarga (keturunan/suku/kelompok).
4) bersatupadu dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum meninggalkannya, dia bertanya bagaimana menghilangkan jeragat hitam di wajahnya. Aiseyymaaan ... dalam keterpaksaan saya menjadi penasihat kecantikan dalam masa empat lima minit ... ;) Krim sunblock saya yang tinggal setengah tiub saya berikan kepadanya. Sejurus selepas mengambil krim itu dia menarik saya ke dalam kedai. Alamak, nak kidnap saya ke? Begitu saya berprasangka!

"Tolong perdengarkan kepada saya dua kalimah syahadah." Mohon dia dan saya tergamam seketika. "Tolong!" Pintanya lagi dalam suara meminta belas kasihan. Saya melafazkan kalimah suci itu. Dia menarik nafas panjang kemudian berkata: "Indahnya! Satu hari nanti saya harap dapat melafazkannya di hadapan seorang imam."

Alpanya saya sehingga terlupa bertanyakan namanya. Siapa pun namanya, tidak mengapa jeragatnya tidak hilang asalkan cahaya yang mulai menerangi perjalanan hidupnya tidak hilang sinarnya malah terus kemilau hingga ke alam baqa.


Pulau Samosir, Danau Toba.
25/1/2012

Horas!

Wednesday, 15 February 2012

Pak, rapat Pak!

Al-kisah menurut cerita penduduk tempatan, pada zaman dahulu kala ada sepasang pengantin baru dari Pulau Samosir mahu berkunjung ke satu bahagian tanah yang belum bernama di pinggir Danau Toba. Maka pada suatu pagi yang nyaman, mereka pun belayar menuju ke tempat itu bersama beberapa orang penduduk Pulau Samosir.

Setiba di pertengahan danau yang airnya amat tenang, tiba-tiba sahaja hujan turun dan tiupan angin menjadi kencang. Pengantin perempuan menggigil kesejukan lalu berujar perlahan meminta suaminya duduk rapat disampingnya. “Pak, rapat Pak ... Pak, rapat Pak.” Demikian pintanya dan si suami lantas merapatkan diri rapat-rapat di sebelah isterinya.

Tajam benar pendengaran para penumpang yang lain lalu mereka mengusik-ngusik pengantin baru itu. “Ya, rapat Pak ... rapat ya Pak ... rapaaaat Pak!” Begitu usikan mereka yang menjadikan kedua-dua pengantin tersipu-sipu dan suasana dalam perahu menjadi meriah dalam cuaca dingin yang mencengkam tubuh.

Sesampai di tanah besar yang tidak bernama di pinggir danau itu, para penumpang pun turun dari perahu. Ada beberapa suara yang masih melantunkan kata-kata “Pak, rapat Pak!” Salah seorang daripada mereka mencadangkan agar tempat itu dinamakan ‘Pak rapat’ bersempena peristiwa yang sangat mencuit hati itu. Untuk menyenangkan sebutan, ‘Pak rapat’ disatukan menjadi ‘Parapat’ yang kekal hingga kini.

Demikian kisah bagaimana Parapat mendapat namanya.


Parapat - Pulau Samosir, Danau Toba.
24/1/2012


Salam.

Tuesday, 14 February 2012

Pertemuan pertama

Tiada yang menjadi dalang pada malam yang hanya berpelitakan nafas-nafas kasih dan tiada apa pun yang menghalang 'pabila embun-embun cinta merecup melata hati. Diam bertafakur, kusyuk dalam bicara kalbu yang melupakan diri kepada malam yang semakin larut.

Setulus pandangan dilepaskan untuk dia pada pertemuan pertama itu. Dia menyambutnya dengan telus renungan yang ... aaah, menyusup ke relung hati lalu merebahkan tiang jiwa yang paling halus. Tersentak nian rasa dan bergelandanganlah suara qalbi buat seketika sehinggalah sekilas angin malam yang singgah di wajah menyedarkan diri untuk berpijak di tanah nyata!

Bagaimana mungkin dapat bercerita tentang pertemuan itu sedang diri tenggelam dalam danau cinta?

Bersua muka, bertamu rasa, dan berbicara! Begitulah kami: diri ini dan Danau Toba.

“Sesungguhnya Ya Rabb, Engkau tidak menjadikan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, lindungilah aku dari azab nerakaMu.”


Parapat, Danau Toba.
23/1/2012

Salam.

Saturday, 21 January 2012