
Sandal kesayangan saya sudah agak tua dan sedikit uzur; dibeli untuk mengalas tapak kaki keluar masuk sebuah gedung ilmu tujuh tahun lalu. Sesudah itu dia menjadi teman kembara yang setia mengalas tapak kaki mengembara sini sana. Cushion your feet on a bed of air - begitu yang tertulis di belakang tapaknya dan itulah kekuatannya yang mengagumkan saya hingga kini.
Namanya Sandal Coklat. Kini dia sering sendirian. Bukan saya tidak mahu lagi memakainya tapi risau keuzurannya meruncing lalu dia pergi meninggalkan saya buat selama-lamanya. Semoleknya saya simpan saja di dalam lemari kasut, dan sesekali rindu saya akan memakainya.
Sejujurnya, saya kepingin sekali memakainya ke Kingston Town untuk meneroka sendiri kehidupan para penghuni bandar itu - tidak sekadar teruja dengan kata-kata “there is magic in Kingston Town” oleh UB40 di dalam lagu reggaenya itu. Pastinya bersama Sandal Coklat kemagisan bandar itu dapat memberikan satu pemandangan yang tidak pernah saya bayangkan selama ini yang berdaya menyingkap ilham rasa untuk direnung hati dan difikir benak.
Saya juga teringin amat memakainya untuk melihat sendiri sisa-sisa pencerobohan hak di Palestin, dan sama-sama menghulur kasih kepada yang memerlukan. Kalau Sandal Coklat pernah mengharungi detik-detik cemas di kem pelarian Maesot di sempadan Thai/Myanmar yang hampir-hampir saja menamatkan hayatnya dua tahun lalu, mustahil dia menolak andai diberi peluang untuk mempertahankan Al-Aqsa.
Entah, kenapa pula hati berhasrat mahu memakai Sandal Coklat ke Kuala Terengganu, dan semakin hari semakin kuat keinginan itu. Jauh-jauh di relung kalbu terasa sungguh ada sesuatu yang menggamit rasa untuk ke sana: ikan masak singgang barangkali; atau nasi dagang; mungkin juga tenunan songket, barangkali juga Pasir Panjang. Aneh sunggguh hidup ini kadang-kadang - hajat bertandang tanpa diundang, membuat hati bergelandangan!
Begitulah keinginan mendalam yang terpendam. Entah bila ‘kan terkabul, namun hasrat itu tidak ‘kan berkubur begitu saja. Siapa tahu satu hari nanti ada izinNya lalu mengembaralah saya ke sana tetapi sama ada bersandalkan Sandal Coklat ataupun tidak, itu sesuatu yang saya tidak pasti.
Tidak kiralah seorang manusia itu memakai sandal apa atau kasut apa untuk ke mana-mana di bumi ini asalkan dia tahu bagaimana dia berjalan membawa dirinya dalam kembaranya itu. Kepada yang mengaku dirinya Islam, maka dia berjalan atas nama sebuah agama sejahtera tidak kira di tanah mana dia berpijak. Dia membawa bersamanya kesejahteraan dan menyebarkan keamanan kepada manusia lain, bukan membawa Islam sebagai satu jenama yang bertanda dan berlambang. Manusia Islam itu seharusnya menampilkan perbuatan yang murni seperti yang disuruh Tuhan di bumi mana pun dia berada, bukan bercakap hal-hal yang baik tentang agama tetapi tidak melaksanakan seperti yang disuruh agama. Setiap manusia Islam mestilah melihat Islam itu sebagai cara hidup yang nyata dan amalinya dapat dilihat dan menampakkan faedahnya kepada diri sendiri, keluarga, ummah, dan watan. Jika tidak, malulah orang-orang Islam mengaku diri Islam tetapi tidak melaksanakan seperti apa yang disuruh oleh Islam. Wallahu’alam.
Salam.


