Sunday, 16 July 2006

Ruang Waktu

Tadi, titis-titis air dari langit turun lagi. Tika ini masih lagi menitis. Syukur.

Namun andai ada bintang-bintang kala ini memerhati dalam kelam malam yang hampir subuh, mungkin mereka senyum perli dan berbisik sama sendiri Si Bunga Rampai itu memikirkan apa ya?

Hai bintang-bintang, saya sedang memikirkan tentang perjalanan waktu. Waktu datang dan waktu pergi dan ruang waktu antara dua waktu itu.

Titis-titis air yang menitis itu saya tadah untuk menyeri teratak sepi ini, lantas bisa saja teratak ini berubah wajah. Walau rona merah jambu itu amat intim di jiwa, susunan perabut sering saja meresahkan. Berkorban jua untuk sebuah ketenangan rasa. Wajah baru ini dengan atur susun perabut yang kemas amat menyenangkan, mendamaikan, menenangkan. Alhamdulillah.

Sebenarnya bukan mudah merubah sesuatu apa lagi dalam ruang waktu yang kita sendiri tidak tahu panjang pendeknya. Daripada memikirkan apakah yang bakal berlaku pada masa mendatang walhal itu semua urusan Tuhan, lebih baik utuhkan diri untuk menghadapi kemungkinan. Berubah ke arah kebaikan. Namun sesuatu yang diubah itu menagih pengorbanan diiringi rasa tangggungjawab dan rasa kasih yang tinggi sebagai hambaNya dan sebagai khalifahNya. Saya kira tanpa rasa tanggungjawab ini keindahan perubahan itu tidak dapat dikecapi sepenuhnya.

Dalam dingin titis-titis air yang turun dari langit, sebentar lagi sinar suria akan merangkak keluar dari kelambu malam. Memanaskan siang, menghangatkan sebuah kembara.

Mengembara lagi. Tidak sabar rasanya meninggalkan hutan konkrit ini menuju perkampungan menghijau. Bersama para petani bersama para pekebun, bersama ternakan mereka. Akan merentas hutan, denai kan dijejaki. Tentunya rendang pepohon menyegarkan, kicau burung menghiburkan, warna-warni bunga-bungaan liar meriang rasa, dingin air sungai melega mata meredup sukma ...

Saya kira tanpa petani dan pekebun, manusia bisa saja kebuluran tanpa makanan. Mereka sebenarnya penghibur yang meriangkan manusia dengan membekalkan pelbagai jenis makanan untuk keperluan hidup, dan berlipat gandalah keriangan manusia andai makanan itu datangnya dari hasil pertanian yang bersih dan sihat.

Hasil pertanian yang bersih dan sihat punya berkat yang tinggi. Kesannya kepada manusia amatlah besar dalam ruang waktu kala ini yang mempamerkan para penghuni bumi lebih berperanan mirip haiwan daripada manusia. Dengan izinNya, makanan yang berkat dapat membantu manusia kembali kepada fitrahnya sebagai hambaNya juga berperanan sebagai khalifahNya.

Dari langit yang masih kelam, titis-titis air terus membasahi bumi, moga mengiringi satu kembara yang tidak sepi dalam ruang waktu yang amat sepi.

Salam.

Tuesday, 4 July 2006

Senyum

Ada pelbagai jenis senyum ...

Senyum manis...Senyum pahit...Senyum simpul...Senyum lawa...Senyum kambing ...

Tengahari Sabtu 01 Julai. Tiba di platform menunggu KL Sentral. Ah, saya terlepas tren ke klcc (oohh, klcc lagi...apakan daya, tuntutan kerja). Lantas memarahi diri, siapa suruh jalan berlenggang tadi, kan sekarang dah 6 minit lewat?

Empat minit kemudian seorang wanita dalam lingkungan lima puluhan yang berperawakan sederhana berpakaian a-la Punjabi warna hijau pucuk pisang datang berdiri di sebelah saya. Dia tersenyum memandang saya. Wajahnya bercahaya bak purnama penuh, berseri-seri sekali ketika memberi seulas senyuman itu. Saya terpegun melihat kejernihan rona wajahnya ketika dia tersenyum. Saya membalas senyumannya.

Dia kemudian mengucap salam dalam nada lembut yang keluar antara dua bibir merah jambu yang menguntum senyum. Terasa semerbak harum di pelantar hati saya mendengar suara lunak itu. Saya membalas salamnya.

Tren tiba dan dia minta permisi untuk pergi. Mata saya mengikuti susun langkahnya yang tertib. Dia masuk ke dalam tren. Saya masih tercegat. Dan terlepas tren sekali lagi. Kali ini saya tidak memarahi diri walau saya tahu saya kini lewat 12 minit untuk janji temu.

Telefon bimbit berdering, maaf saya lambat 15 minit, tunggu ya. Itu ujaran di hujung sana. Saya senyum lega.

Wanita itu.Dia seorang yang asing bagi saya, namun salam dan senyumannya membuat saya gembira. Kehadirannya membuat saya lupa pada kepedihan benak memikirkan kesibukan kerenah manusia di klcc. Juga menghilang gusar hati kerana lewat menunaikan sebuah janji temu.

Jenis apa ya senyuman yang begitu?

Tika ini saya teringat pada Tipah Lawa, cuba membayangkan bagaimana agaknya rupa senyumannya.

Salam.