Saturday, 21 July 2012

Lir Ilir

Lir Ilir  -  sebuah lagu daerah Jawa Tengah dan merupakan sebuah karya dari Sunan Kalijaga. Lagu ini mempunyai makna yang sangat dalam.



Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir Tak ijo royo-royo
Tak sengguh panganten anyar
Tak sengguh panganten anyar

Bocah angon – bocah angon
Panekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono
Kanggo sebo mongko sore
Kanggo sebo mongko sore

Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak o, surak hiyo


Bait di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya. Anak gembala, panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya]. Panjatlah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut "bocah angon‟.

Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan.



Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore

(Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore.)

"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan "sowan" atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.



Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane

(Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.)

_______________________________________________________________________________________________


Lir-ilir, lir-ilir = tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa? Ruh? kesadaran? Pikiran? Terserah, yang penting ada sesuatu yang kita hidupkan.

tandure wus sumilirtanaman-tanaman sudah mulai bersemi.
Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.



Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar  =  demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.
Hijau adalah simbol warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja2 jawa yang baru masuk Islam. 

Cah angon… cah angon… penekna blimbing kuwi  = anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu.
"Cah angon" maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu "menggembalakan" makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu, kenapa "Blimbing" ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa "Penekno" ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodotira = walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian.
Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara / saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotira… dodotira… kumitir bedah ing pinggir = pakaian-pakaian yang koyak disihkan.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah "sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa". Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek. 

Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore = jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.
Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut „paseban‟ yaitu tempat menghadap raja.Di sini Sunan memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane = selagi sedang terang rembulannya, selagi sedang banyak waktu luang.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita. Selagi masih banyak waktu, selagi masih banyak kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu dan bertaubatlah.

Yo surako surak hiyo = mari bersorak-sorak ayo…
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.


Terima kasih:
http://www.youtube.com/watch?v=1zsNkQpk0uw&feature=related
http://vempuzka.wordpress.com/2010/04/09/lir-ilir/ 

No comments: