Monday, 31 October 2011

Mukabuku

Bagaimana ya ini boleh berlaku sedangkan BR tidak punya akaun fb? 'Pabila ke pautannya dan masukkan kata laluan... aiik, katanya salah! Waduh waduh... gimana sih? Lagian, nggak ada kok minta mintain untuk buat fb  dalam henfon! Musykil musykil!

____________________________________________________________

Halo Bunga,
Anda belum mengunjungi Facebook lagi belakangan ini.Anda telah mendapatkan beberapa pemberitahuan saat sedang tidak berada di tempat.

Untuk masuk ke Facebook, ikuti tautan di bawah:
http:// www...
Terima kasih,
Tim Facebook

* * *

Hai Bunga,
Anda baru saja meminta untuk menggunakan fitur masuk dengan mudah melalui perangket seluler Anda.

Klik tautan di bawah untuk mempermudah masuk ke Akun Facebook Anda:
http://www...

Jika Anda tidak pernah meminta menggunakan fitur ini, kemungkinan ada orang lain yang keliru mencoba masuk menggunakan informasi masuk Anda. Orang itu tidak mengetahui tautan ini dan akun Anda masih aman.

Terima kasih,
Tim Facebook

____________________________________________________________

Baca pautan  ini  untuk renungan dan peringatan.


Salam.

Sunday, 23 October 2011

Itu kata dia

Pemandu teksi itu kata biar laju maka cepat sampainya. Saya pula kata biar lambat asalkan selamat.

Kata pemandu teksi hujan dah mula turun... nak elak jam kalau hujan lebat, jadi kena bawa laju. Kata saya bawa perlahan kerana jalan licin, pandu laju nanti terbabas.

Aah, teksi terus meluncur laju di lorong kanan jalan raya. Rasa rasanya macam naik kereta lumba Formula 1. Hujan mulai melebat. Risau jadinya saya.

Nanti kena saman! Saya mengingatkan pemandu teksi. Time time hujan begini mana ada polis trafik... dorang tidur, katanya yakin.

Vroomm vroomm vroomm dia menekan minyak di hadapan lampu merah. Aduuuh, hati saya beristighfar kencang!

Setiba di Kajang, pemandu teksi meminta nama taman perumahan dan bertanyakan bila terakhir saya ke taman itu. Jawab saya... tak pernah sampai lagi ke tempat itu.

Tak mengapa jawabnya. Kalau tak jumpa taman itu kita rehat dulu makan satay. Errr, makan satay? Huh, biar benar orang tua ni! Sungguh dia sudah berusia. Rambutnya tipis dan beruban. Pipinya cengkung. Kurus badannya namun dari cara dia memandu, dia masih kuat tenaga.

Tiba di lokasi, pemandu teksi tersenyum lebar menampakkan susunan giginya yang jarang jarang. Ketika menyambut bayaran dia berkata ... kan saya dah kata cepat sampainya kalau bawa laju!


Salam.

Wednesday, 5 October 2011

Akan ada waktunya

Syawal 3 di kaki gunung.

Naurah merenung tulisannya sendiri. Lebih tepat, Naurah merenung luahan rasa jiwanya di atas sehelai kertas putih. Barangkali apa yang ditulisnya itu amat asing bagi hatinya yang sedang digebari perca-perca kenangan maka dikoyaknya kertas itu lalu direnyuk-renyuk kemudian membalingnya ke atas lantai. Tulis, renung, baca, renyuk, dan baling! Begitulah Naurah pada pagi yang berangin lunak dan tebal kabus masih melingkari rimba di pergunungan. Kalau dikira-kira gumpalan kertas di atas lantai, nyata sudah  sembilan kali dia mengulangi perbuatannya itu.

Dari beranda chalet tempat Naurah melayan rasa: membaca, berfikir-fikir, merencana, dan sesekali  menerbangkan angan-angannya yang kadang-kadang melayang entah ke benua mana - jelas kelihatan sebatang pokok besar di laman yang dia sendiri tidak tahu apakah namanya. Pada beberapa dahan pokok itu tumbuh sang anggerik yang menjuntaikan bunga-bunganya dan bunga-bunga itu akan bergoyang-goyang manja tatkala ditiup angin. Setiap kali matanya dan anggerik itu bertamu pandang, ada saja yang bertandang di kepalanya lalu ditulisnya di atas kertas. Namun … aah, asyik tidak menjadi tulisannya dan kertas itu menjadi mangsa renyuknya!

Naurah tidak mengendahkan waktu yang pergi. Baginya, selagi tiada panas mentari menghangatkan paginya maka selama itulah dia berselimutkan shawl kelabunya, dan menghirup nescafe panas yang rasa manis pahit lemaknya bisa saja memanggil-manggil sekilas rentak waktu-waktu yang merapuh …

ini kelopak hati yang tergurit
diam bercarek meredah waktu
bermusim menahan perit
meluluh jiwa nan satu

biarlah
lepaskanlah

insya Allah akan ada waktunya
setia kasih bertasbih di hati
menjunjung takbir atas namaNya
dan  cinta bertahajud hingga ke pagi

Demikian Naurah mendandan kata-kata di benaknya, dan kali ini dia membenarkannya  tanpa menulisnya di atas kertas.


Zulkaedah 7 di pinggir kota yang bukit-bukitnya kian hari kian mendatar.

Akur Naurah pada sesuatu yang berlaku adalah hasil gerak dari Penggeraknya dan selayaknya berwaktu dan bertempat  - ada waktu dilahirkan, ada waktu mati; ada masa ketawa, ada masa menangis; ada kalanya hati menjadi sepi, ada kalanya bergelora; ada musim kemarau, ada musim tengkujuh; ada detik kembangnya bunga, ada pula detik gugurnya; ada waktu menerima, ada waktu melepaskan – dan pada jiwa mentah Naurah, walau sedetik waktu dia menyepi, ada saja rasa terkilan mendesah di kalbunya. Terkilan kerana dia masih belum mengorak langkah untuk mengangkat cinta hakiki, dan dalam rentang waktu yang menyingkat usia dia hanya mampu berkepinginan …

sabarlah
beistighfarlah
insya Allah akan ada waktunya
setia kasih bertasbih di hati
menjunjung takbir atas namaNya
dan  cinta bertahajud hingga ke pagi

‘Akan ada waktunya nanti, Insya Allah.’ Begitu pujuk Naurah kepada hati yang mendesah duka; dan sementara menanti adanya waktu itu, dia mengizinkan waktu celiknya untuk memanfaatkan waktu Dhuha.

“Dalam tubuh manusia ada tiga ratus enam puluh ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut. Para sahabat bertanya: “Adakah orang yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Kahak yang ada di masjid lalu ditanam ke tanah  dan membuang sesuatu bahaya dari tengah jalan, maka itu bererti suatu sedekah. Tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat solat Dhuha.”  ~ Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam.



Salam.