Syawal 3 di kaki gunung.
Naurah merenung tulisannya sendiri. Lebih tepat, Naurah merenung luahan rasa jiwanya di atas sehelai kertas putih. Barangkali apa yang ditulisnya itu amat asing bagi hatinya yang sedang digebari perca-perca kenangan maka dikoyaknya kertas itu lalu direnyuk-renyuk kemudian membalingnya ke atas lantai. Tulis, renung, baca, renyuk, dan baling! Begitulah Naurah pada pagi yang berangin lunak dan tebal kabus masih melingkari rimba di pergunungan. Kalau dikira-kira gumpalan kertas di atas lantai, nyata sudah sembilan kali dia mengulangi perbuatannya itu.
Naurah merenung tulisannya sendiri. Lebih tepat, Naurah merenung luahan rasa jiwanya di atas sehelai kertas putih. Barangkali apa yang ditulisnya itu amat asing bagi hatinya yang sedang digebari perca-perca kenangan maka dikoyaknya kertas itu lalu direnyuk-renyuk kemudian membalingnya ke atas lantai. Tulis, renung, baca, renyuk, dan baling! Begitulah Naurah pada pagi yang berangin lunak dan tebal kabus masih melingkari rimba di pergunungan. Kalau dikira-kira gumpalan kertas di atas lantai, nyata sudah sembilan kali dia mengulangi perbuatannya itu.
Dari beranda chalet tempat Naurah melayan rasa: membaca, berfikir-fikir, merencana, dan sesekali menerbangkan angan-angannya yang kadang-kadang melayang entah ke benua mana - jelas kelihatan sebatang pokok besar di laman yang dia sendiri tidak tahu apakah namanya. Pada beberapa dahan pokok itu tumbuh sang anggerik yang menjuntaikan bunga-bunganya dan bunga-bunga itu akan bergoyang-goyang manja tatkala ditiup angin. Setiap kali matanya dan anggerik itu bertamu pandang, ada saja yang bertandang di kepalanya lalu ditulisnya di atas kertas. Namun … aah, asyik tidak menjadi tulisannya dan kertas itu menjadi mangsa renyuknya!
Naurah tidak mengendahkan waktu yang pergi. Baginya, selagi tiada panas mentari menghangatkan paginya maka selama itulah dia berselimutkan shawl kelabunya, dan menghirup nescafe panas yang rasa manis pahit lemaknya bisa saja memanggil-manggil sekilas rentak waktu-waktu yang merapuh …
ini kelopak hati yang tergurit
diam bercarek meredah waktu
bermusim menahan perit
meluluh jiwa nan satu
biarlah
lepaskanlah
insya Allah akan ada waktunya
setia kasih bertasbih di hati
menjunjung takbir atas namaNya
dan cinta bertahajud hingga ke pagi
Demikian Naurah mendandan kata-kata di benaknya, dan kali ini dia membenarkannya tanpa menulisnya di atas kertas.
…
Zulkaedah 7 di pinggir kota yang bukit-bukitnya kian hari kian mendatar.
Akur Naurah pada sesuatu yang berlaku adalah hasil gerak dari Penggeraknya dan selayaknya berwaktu dan bertempat - ada waktu dilahirkan, ada waktu mati; ada masa ketawa, ada masa menangis; ada kalanya hati menjadi sepi, ada kalanya bergelora; ada musim kemarau, ada musim tengkujuh; ada detik kembangnya bunga, ada pula detik gugurnya; ada waktu menerima, ada waktu melepaskan – dan pada jiwa mentah Naurah, walau sedetik waktu dia menyepi, ada saja rasa terkilan mendesah di kalbunya. Terkilan kerana dia masih belum mengorak langkah untuk mengangkat cinta hakiki, dan dalam rentang waktu yang menyingkat usia dia hanya mampu berkepinginan …
sabarlah
beistighfarlah
insya Allah akan ada waktunya
setia kasih bertasbih di hati
menjunjung takbir atas namaNya
dan cinta bertahajud hingga ke pagi
‘Akan ada waktunya nanti, Insya Allah.’ Begitu pujuk Naurah kepada hati yang mendesah duka; dan sementara menanti adanya waktu itu, dia mengizinkan waktu celiknya untuk memanfaatkan waktu Dhuha.
“Dalam tubuh manusia ada tiga ratus enam puluh ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut. Para sahabat bertanya: “Adakah orang yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Kahak yang ada di masjid lalu ditanam ke tanah dan membuang sesuatu bahaya dari tengah jalan, maka itu bererti suatu sedekah. Tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat solat Dhuha.” ~ Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam.
Salam.
8 comments:
"....dan cinta bertahajud hingga ke pagi....." Naurah menulisnya dgn begitu indah. Dia hanya membiarkan sunyi datang bergulung gulung.
Hebat Naurah heh? :)
salam singgah
Bang Lope, barangkali nescafe itu menjadikan Naurah sedikit luar biasa pada pagi itu ;)
Saya percaya setiap manusia punya kelebihan dan kekurangannya. Manusia hanya perlu berfikir dan berusaha untuk memanfaatkan kedua dua ciri itu untuk melahirkan kehebatan dirinya. Namun, setinggi mana pun kehebatan manusia... tiada sesiapapun yang dapat menandingi kehebatanNya.
Begitulah Bang Lope rencamnya kehidupan ini, dan sunyi itu adalah anugerah alam... :)
King, terima kasih atas ingatan dan ziarahmu.
di kaki kinabalu kah?
salam cik rampai..:)
Afid, begitulah, hanya di kaki gunung... tak berani ke puncak, nanti beku :D - salam kembali Afid :)
rugi cik rampai kalau tak sampai ke puncak. hehe
Afid, sampai ke Laban Rata pun dah kira ok untuk saya yang... huhuhu, gayat! Saya pasti Afid dah sampai ke puncak Kinabalu :)
Post a Comment