Tuesday, 20 July 2010

Tenang

Seriau sungguh 'pabila memikirkan tentang masa yang datang perginya bagaikan kilat. Rasanya baru sebentar tadi embun masih membasahi bumi, alih-alih kelihatan mentari sudahpun mengengsot mendaki langit. Kemudian nanti senja pula akan menyusul dan mentari perlahan-lahan meredup dan akhirnya tunduk berkasih dengan warna senja yang bakal mengilhamkan sunyi malam yang entah nanti berbulan bintang entah tidak. Alangkah antara siang dengan malam ada ruang lompang yang tercipta untuk manusia menghimpun bicara kehidupannya pada setiap saat selama masih bernafas. Mudah-mudahan segala himpunan bicara itu adalah yang molek-molek belaka dan dijadikan bekal dalam perjalanan pulang ke negeri asal.

Alahai, lama nian tidak melukis rasa di teratak ini. Kalau bukan kerana suatu petang yang damai di anjung Promenade minggu lalu sambil minum-minum teh - sambil melihat mentari menjatuhkan cahaya peraknya ke atas permukaan air lalu membentuk bulatan berkilau melingkari pulau kecil itu (oh, cantiknya!), barangkali teratak ini terus sepi. Antara hirupan teh dan kunyahan kuih ketayap petang itu, terselit pesanan Uncle Deen yang mengocak fikir.

Aneh sungguh hidup ini kadang-kadang. Banyak perkara yang mahu diubah oleh manusia tetapi ia tetap tidak berubah, dan banyak hal yang tidak mahu diubah tapi ia tetap saja berubah. Begitulah kehidupan ini yang sukar dijangka namun pada jiwa-jiwa yang tenang, pergolakan dalam kehidupan umpama cubitan sayang dari seorang ibu sebagai peringatan, pantas menyedar dan menginsafkan. Mudah-mudahan ada saja panduan yang dapat kita kutip dari sela-sela peristiwa yang berlaku di sekitar kehidupan yang singkat ini lalu dijadikan pedoman dalam meraih ketenangan jiwa.

Jiwa yang tenang senang melahirkan senyuman dan kata-kata ikhlas. Begitu kata Uncle Deen. Senyuman yang lahir dari jiwa yang tenang merupakan sedekah, manakala kata-kata yang terbit dari hati nurani yang tulus adalah doa. "Wahai jiwa-jiwa yang tenang," demikian yang selalu disebutNya. Benarlah, ketenangan jiwa sesungguhnya adalah hiasan peribadi yang cukup indah yang dilampiaskan melalui perlakuan yang berhemah. Semua itu adalah buah dari bunga-bunga yang terlebih dahulu mekar mengharum dalam ketenangan dari taman jiwa yang dirapi bersih. Mudah-mudahan dipermudahkanNya untuk kita memiliki ketenangan jiwa.


Salam.

4 comments:

julietchun said...

ketenangan jiwa seseorang itu digambarkan pada raut wajahnya, betulkah cik bunga rampai?

saya belum berkesempatan duduk santai menghirup teh, ada saja yang nak mengganggu ketenangan :P

Purpleheart said...

berbahagialah pada yang mempunyai jiwa yang tenang..kerana ramai yang sedang berduka lara..pada yang berduka lara, ingatlah Dia selalu..insya Allah pasti tenang..

blackpurple @ jowopinter said...

Salam BR,

Jiwa yang tenang, pun satu rahmat yang tak terhingga.

Bunga Rampai said...

Juliet, wajah yang tenang datang dari jiwa yang tenang.

Purpleheart, ayat-ayatNya adalah ayat-ayat penenang kepada jiwa lara. Bacalah!

Blackpurple, intipati rohani.