Sunday, 22 January 2006

Sajak untuk zizie ali

berjalan, bertateh, merangkak ...

jalan pulang ini
jauh tapi dekat
luas namun sempit
lurus berbengkok
rata beralun ...
entahlah, kadang pelantar citra
goyah dalam utuh
mencari, unjur ke mana
rindu yang menyantun
walau khalis malam menyapa
bersyair khair
sejadah usang akur menadah titis air...

ingin kusingkap
satu sir
untuk bermukim.

~ Bunga Rampai ~


*alahai*

Anehnya hidup ini ya, kekadang. Dipertemukan-Nya untuk saya manusia-manusia yang bersuara lantang dan lancang tidak berwajah. Lantas saya pandai-pandai saja merindu. Kemudian pandai pula berpuisi, walhal bukan pandai pun bersajak. Sajak di atas itu tiba-tiba saja tercetus atas izin-Nya, setulusnya untuk zizie. Jangan ketawa ya, entah apa-apa sajak itu.

Salam perkenalan di alam maya yang fana. Hari ini kemarau zizie, tiada air setitis pun dari langit untuk saya kumpul buat hidangan. Harus bersyukur jua, kita masih bisa bernafas.

Senang sekali memanggil 'zizie' sahaja, seolah saya ini berbicara dengan seorang perempuan, tapi saya kira zizie ini seorang pria 100% buatan Malaysia. Masihkah yang terhangat di pasaran?

Saya sudah ke blog zizie, semua puisi saya baca. Ada yang saya faham, ada juga yang tidak faham, malah ada juga yang buat saya bingung. Begitulah agaknya rasa hati seorang pemuisi melontar naluri yang tulus, telus, dan mulus. Hanya dia sendiri yang tahu kenapa dia begitu berpuisi.

Saya tetap kagum dengan pemuisi walaupun hakikatnya di tanah air kita ini pemuisi kadang tidak punya tempat tepat mampat di arena cetak kecuali dia ada talian telefon yang bermacam-macam - digi, celcom, maxis, tm, dan entah apa-apa lagi (begitulah yang saya dengar di angin lalu maka saya utarakan di sini, kalau salah, maaf ya - saya kadang-kadang suka juga jadi nujum pak belalang).

Pada pandangan peribadi saya, tanah air kita ini memerlukan para pemuisi yang peka kemudian bersuara lantang dan lancang untuk membuka mata orang-orang yang menggelarkan diri mereka sebagai pakar pembangunan.

Sekian.

3 comments:

zizie ali said...

"...hari ini kemarau zizie, tiada air setitis pun dari langit untuk saya kumpul buat hidangan. Harus bersyukur jua, kita masih bisa bernafas..."
dahagaku tiba-tiba hilang!
syukur dapat saling bertandang...
p/s... S.U.Z.A ...menjadi koleksi pribadi yang akan dibaca berkali-kali.

Ku Keng said...

Ya Bunga Rampai. Teruskan lagi. Sungguh berinspirasi.

Bunga Rampai said...

Salam,

Kemarau di hatiku kini berbunga cempaka. Moga zizie dalam tenang selalu.Amin.

Bicaramu Keng meredup sukmaku. Damai sentiasa hendaknya jiwamu. Amin.